Memulai joging

Aku Joging? Kayaknya ga ada yang percaya deh. Aku sendiri masih belum percaya kalo aku mau bangun pagi terus olahraga. Kalo sholat subuh sih pasti, cuman biasanya tidur lagi. Kalo kakakku semenjak menikah setiap selesai sholat subuh dia udah mulai rajin baca Quran, tapi untuk aku, yang sholat subuhnya harus menunggu mood dulu kayaknya berat untuk keluar cari angin dan sekedar joging. Tapi dua hari ini aku coba untuk memulai memperbaiki pola hidup sehat.

Iklan

Semakin Parah, Kepala Rasanya Mau Pecah

Hai, jika kemarin aku tak sanggup untuk melanjutkan tulisanku itu karena kemarin batukku yang disertai dengan darah kembali kambuh. Saat itu aku berada di wifi corner di daerah dinoyo. Yaaa… plaza Telkom tepatnya, bahkan ketika aku ke toilet untuk membuang dahak ternyata didalam ada orangnya. Jadi terpaksa aku buang di tempat wudhu. Namun saat yang keluar dari kamar mandi ternyata seorang gadis yang hendak sholat, dia takut dikiranya saya buang air karena saking ga tahannya. Kubilang aja “ga mungkin lah mbak,”

namun dia jawab “siapa tahu”. ga kubalas, aku buru-buru ke kamar mandi karena batukkku mulai kambuh lagi.  Setelah itu aku kembali ke mejaku dan beranjak pulang ke basecamp untuk istirahat. Hari ini aku bangun tapi kondisiku lumayan parah, kepalaku rasanya pening. Kepala rsanya seperti habis dipukul di bagian belakang semakin di tahan semakin luar biasa sakit. Beberapa jadwal terpaksa aku panding, beberapa janji aku  batalkan aku lanjutnkan istirahat dan bangun-bangun mendekati sholat dhuhur, aku nggak ingin penyakitku ini menghampat aktivitasku, jadi sambil menahan sakit aku bekerja seperti biasa desain beberapa pekerjaan yang sudah dadline. Aku menulis ini pagi hari tanggal 6-nya karena kemarin aku ga sempet sama sekali menulis karena dikejar beberapa deadline desain yang harus segera cetak.

 

Surabaya, 6 januari 2017

-roy-

Tulisan Pertama diawal tahun 2017

Hari ini adalah hari pertama setelah sekian lama aku tidak menulis, aku berharap tulisan ini akan berlanjut ditengah kesibukanku membangun usaha pribadiku yang dulu sempat terhenti. Ya tiga tahun lalu aku sempat merintis usaha percetakan yang hanya berumur kurang dari 6 bulan karena aku harus ke Samarinda selain karena ada project kalender tahuan dari salah satu sekolah di sana, aku juga ingin menyelesaikan beberapa urusan yang tertinggal disana. Saat  itu aku sebenarnya sudah mulai enjoy dengan usaha baruku, punya kios sendiri ngontrak kios fotocopy kecil-kecilan. Saat itu kiosku kuberi nama Viedart Advertising. Ternyata nama yang kuanggap keren malah blunder. Yah karena tempatnya di kampung tak ada yang tau apa itu advertising. Ditambah nama viedart yang tak lain adalah nicknameku yang biasa kupakai untuk chating di internet. Orang malah bener-bener asing. Ga ada yang tahu itu kios apaan. Masih inget aku hari pertama uang yang kudapat waktu itu hanya 20.000, itupun bukan dari jualan desain tapi kudapat dari pulsa yang kebetulan usahanya adikku yang nebeng daripada etalasenya kosong. Saat ini aku memulai lagi tapi dari online, tanpa tempat hanya bermodalkan social media instagram dan beberapa follower yang lumayan tapi mereka aktif dan cukup dekat dengan aku. Jadi ketika aku posting tentang kerjaanku ada beberapa teman yang pesan. Yah Alhamdulillah walau tak banyak tapi omset dari jualan online dapat membantu mencukupi kebutuhan rumah dan kebutuhan pribadiku. Oh iya nama kubuat lebih familiar mudah diucapkan dan yang pasti cukup nyleneh dan bikin orang geleng kepala dan berkomentar “bisa aja”. Nama lapakku adalah Cendol – cetak n desain online-
hehehe logo-cendol-online-merahgimana cukup mudah diucapkan kan? pasti bikin kalian geleng geleng kepala sambil berkata “bisa aja”.

Tulisan ini mungkin akan menjadi awal aku menulis kembali dan mungkin akan menjadi rangkaian tulisan perpisahan. Karena aku tak tahu tinggal berapa lama aku hidup di dunia ini. Saat aku menulis tulisan ini kondisi kesehatanku sedang turun, sepertinya penyakit lama ku sedang kambuh. Tapi aku percaya di sisa usiaku ini aku masih bisa bermanfaat untuk orang lain dan membesarkan usahaku tersebut. Aku yakin masih bisa berkarya untuk seratus tahun lagi. Atau paling tidak karyaku bisa berguna untuk seratus tahun kedepan. Sepertinya  kondisiku ini benar-benar drop, batukku tak mau berhenti, keringat dingin terus mengucur. Rasanya hari ini cukup sampai disini. Sampai jumpa besok, mudahan besok aku masih bisa menulis dan bertemu kalian walau hanya memalui tulisan.

Surabaya, 4 Januari 2017

Roy Fibrianto

Menikmati Sunrise di pantai Pampuma

image

Ga ada angin ga ada hujan, tiba-tiba Qowy, salah satu temen dari SSChild Surabaya mengajak kami pengajar ambengan batu untuk jalan-jalan ke Pantai Pampuma di Jember. Kebetulan juga sih ada temen kita yang kerja di jember yaitu mas Andy yang siap menjadi penunjuk jalan ke sana. Rencana awal sih yang mau berangkat qowy, Saad, Fahmi, aku dan mbak Mhee. Kami berencana berangkat naik kereta Api tapi karena waktunya terlalu mepet, tiket kereta pun habis terpaksa kita naik bus. Malam sebelum berangkat mbak Mhee sudah memastikan ga ikut berangkat kalau naik bus, tapi qowy masih sempet ngabari, kalo dia tetep ikut tapi ga tahu kenapa pagi hari menjelang Berangkat, dia membatalkan untuk berangkat. Coba dia bilangnya malam mungkin kita semua batal berangkat, tapi karena paginya kita sudah siap, maka perjalanan pun berlanjut walau hanya bertiga, Aku, Fahmi, dan Saad. Sebelum berangkat kita berkumpul dulu di tempat kostnya qowy untuk ambil Tenda yang sudah disewanya semalam untuk ngecamp di pantai Pampuma. Sampai di kostnya eh dia malah membelikan kita snack untuk cemilan kita, padahal dianya sendiri ga ikut.

image

Kami bertiga pun akhirnya berangkat menuju terminal Purabaya (bungurasih) untuk parkir motor dan berlanjut naik bus berangkat ke Jember. Sampai di terminal, bus yang tarif biasa sudah berangkat dan adanya bus patas dengan tarif sedikit lebih mahal, Rp52.000,-. Sedang tarif bus biasa hanya Rp.35.000,-. Di dalam Bus fahmi duduk bersebelahan dengan seorang bule kebangsaan Jerman, yang ternyata mereka hendak ke gunung Bromo. Kita lupakan sejenak soal bule dari Jerman itu, toh yang duduk bersebelahan bukan aku tapi Fahmi, entah apa yang mereka bicarakan, yang pasti aku menikmati perjalananku di bus sambil tidur-tiduran di iringi lagu Mp3 dari hp. Kira-kira jam 1an kita sampai di terminal jember, sambil menunggu mas Andy menjemput di terminal kami makan siang dulu di terminal. Yang membuat kami terkejut ada seorang penjual jagung rebus yang menawarkan jagungnya hanya 1000 rupiah, sementara di surabaya jagung rebus masih dijual dengan harga 3000 rupiah, murah juga ya hidup di jember. Setelah kita makan Mas Andy dan kedua temannya akhirnya datang menjemput kami di terminal. Dan kita berenam pun langsung menuju ke pantai, setelah sebelumnya Mas Andy dan kedua temennya mampir makan siang mie kopyok khas jember yang harganya ga kalah murahnya juga. Sesampai di Jember kita mendirikan Tenda di bibir pantai deket parkiran mobil.

image

Malamnya harinya sambil mendengarkan suasana dentuman ombal di malam hari membuat hati tenang, jauh dari hiruk pikuk suara kendaraan di jalan. Baru kali ini aku bermalam di tepi pantai sambil mendengarkan suara ombak bersahut-sahutan. Sensasinya memang berbeda dengan di gunung, kalo di gunung suara jangkrik dan udara menusuk kulit biasa menghampiri, sedang di tepi pantai dengan tiupan angin yang cukup kencang namun dinginnya tidak setajam udara gunung. Sambil menikmati irama ombak yang bersahut-sahutan kami membuat api unggun dengan membakar kayu di sekitar pantai.

image

Kejutan Kecil untuk Kakak Les

image

Selamat kak qowy...

Siang itu aku asyik bermain dengan teman teman gang 3 ketika kakak-kakak Les datang ke tempat kami. Ya, kami memanggilnya kakak les, kakak-kakak dari save street child surabaya ( uh.. susahnya mengeja ) yang biasa mengajari kami tiap hari selasa dan kamis. Hari itu hari minggu, nggak biasanya kakak-kakak les hari minggu datang, kukira ada kegiatan belajar, tapi ternyata tidak. Hari itu yang datang ada kak saad, kak ira, kak reny, kak mee,mas roy dan kak puspita yang datang terlambat. Mereka menyuruh kami membuat tulisan ucapan selamat untuk wisuda-nya kak Qowy. Aku ga tahu apa itu “wisuda” yang aku tahu untuk ucapan selamat kak Qowy.

Setelah tulisan ucapan kami untuk kak Qowy selesai, kami diajak oleh kakak-kakak les menuju tempat Kak Qowy dengan naik motor. Waktu itu yang ingin ikut banyak seperti mbak putri dan mbak nikita juga pengen ikut, tapi karena ga muat hanya 8 anak yang diajak. Dimas, aldo, putra, arya, riana, amel, keysha, dan karin.

Sampai di tempat mbak qowy, kami sempet mutar-mutar cari tempat parkir. Wah rame banget, ada yang jual bunga, ada yang jual minuman dingin, setelah ku tahu, oh ini toh tempatnya kak qowy di wisuda. Tiba di sana kami gak langsung ketemu kak qowy. Kami masih mencarinya ditengah ribuan orang yang diwisuda dan keluarganya yang hadir.

Kak Saad dan Mas Roy masuk ke dalam untuk nyari Kak Qowy di tengah kerumunan orang sementara kami menunggu di depan. Gak berapa lama kak Saad dan Mas Roy datang mengajak kami ke tempat foto dan disitu kita foto-foto bareng, “Selamat buat Kak Qowy yang udah jadi Sarjana, doakan semoga kami juga bisa seperti Kak Qowy”.

Foto-foto ga hanya di luar kami pun masuk ke ruangan tempat kak qowy di wisuda. Di situ kami juga foto-foto sambil bermain kejar-kejaran, ga lama mas roy menyuruh kami mengumpulkan tutup botol air mineral untuk di jadikan prakarya katanya.

image

Ini adalah hasil tutup botol yang berhasil kami kumpulkan untuk prakarya hero hore

Kami di suruh mengumpulkan tutup botol, dan yang paling banyak ngumpulkan tutup botol ditraktir minum es sama mas roy dan ternyanta pemenangnya adalah putra karena berhasil mengumpulkan 62 tutup botol sedang arya berhasil mengumpulkan 60 tutup botol, aldo berhasil mengumpulkan 45 tutup botol sedang aku hanya berhasil mengumpulkan 25 tutup botol.

Setelah selesai dari tempat kak Qowy kami di ajak makan-makan sama kakak lesnya yang traktir kak Saad, terima kasih kak Saad semoga rejekinya lancar. Dan hari minggu ini pun cukup membuatku senang. Semoga kakak-kakak Lesnya tidak bosan dengan kami dan mau terus mengajar di Ambengan batu.

Dari Anak Merdeka Ambengan Batu

semut kecil

Dia menyebut dirinya seperti itu “semut kecil” di tumblrnya…, ga heran sih kalo liat anaknya yang kecil mungil and unik, ya “unik” mengapa kukatakan unik? karena anaknya bukan seperti gadis-gadis lain yang biasa kukenal (mainstrem) bahkan dia sendiri  menyebut dirinya anti mainstrem.
image

Memang sih sebelum aku mengenal dia lebih dekat, dia orangnya cuek, jutek, dan sepertinya susah sekali untuk masuk kedalam zona pertemanannya, namun setelah beberapa kali pertemuan dan mengenalnya ternyata she is beautifull, bukan hanya dari fisiknya saja namun dari kepribadiannya. Aku mengenalnya dari sebuah komunitas peduli anak jalanan di kota Surabaya. Saat ini dia aktif mengajar di salah satu wilayah belajar komunitas dari tersebut.

Kenapa aku ingin menulis sosok tentang dirinya? entahlah yang pasti hanya karena janjiku padanya untuk menuliskannya di blog pribadiku tak lebih, hehehe… sudah kutepati lho ya. Apakah aku suka dia entahlah, apakah aku jatuh cinta dengannya akupun tak tahu. aku belum berani berkata aku suka dia karena kedekatan kami layaknya kedekatan seorang kakak dan adiknya, layaknya kedekatan seorang sahabat dengan sahabat lainnya, tak ada perasaan yang spesial diantara kami, entah dia.

Baru-baru ini kami terlibat acara bareng dengannya dalam sebuah event lounching buku seorang kawannya yang dia dikenal via tumbler. Dia sangat ngefans sekali dengan penulisnya, dia paling semangat kalo cerita soal tulisan-tulisan kawannya itu di tumbler. Dia memang suka membaca dan menulis, aku juga suka tulisan-tulisannya di tumbler. Sebenernya tulisan-tulisannya ga kalah bagus dengan kawannya yang baru launching buku itu hanya saja, kepercayaan dirinya saja masih kalah jauh.

Tahun ini juga menjadi tahun spesial untuknya, karena pada tanggal 27 sept kemarin, dia baru saja menamatkan studi S1nya di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA dulunya IAIN Sunan Ampel Surabaya). Acara wisudanya tepat satu hari menjelang acara launching buku kawannya itu di Surabaya. Sayang sekali aku ga hadir di acara wisudanya, selain karena pekerjaanku yang baru pulang jam 3 sore, hari itu juga sudah janji dengan kawannya itu sang penulis itu.

Hm… sebenarnya banyak sekali sesuatu yang ingin aku tuliskan tentang dirinya tapi aku takut nanti dia ke-geeran lagi hehehe… aku rasa itu saja dulu yang dapat aku tuliskan tentang dirinya. Saranku buat dia agar tetap selalu barkarya dan memberi manfaat untuk semua

Dari seorang teman
Roy

Cerita dari Delta

IMG_9462Waktu menunjukkan pukul 22.00 waktu Surabaya, saat aku pulang dari nonton film di bioskop plaza Surabaya kulihat seorang gadis kecil yang berusia belum genap 10 tahun, dan bocah laki-laki yang belum genap 5 tahun, sedang tidur tanpa alas di lantai plaza yang cukup dingin menurutku. Disampingnya ada gelas plastik untuk tempat uang receh bagi siapapun yang iba dan memberikan recehan padanya juga beberapa lembar Koran yang belum laku tampak tergeletak digunakan sebagai bantal. Saat pertama kali berjumpa aku sempat berikir kemana ibunya, kok tega sampai larut malam kok anaknya dibiarkan tidur di emperan mall, hingga akhirnya aku bergabung dengan komunitas yang peduli dengan nasib mereka, ya komunitas itu bernama Save Street Child Surabaya.

Komunitas SSC Surabaya inilah yang mengenalkanku pada Rahma gadis kecil yang kujumpai pertama kali di Plaza Surabaya waktu itu. Dan ternyata bocah laki-laki yang disampingnya yang cukup aktif adalah adiknya bernama Fano. Aku bergabung menjadi volunter SSC Surabaya sebagai tenaga pengajar yang dikenal dengan sebutan Pengajar Keren dari program KAU Mengajar (Kami Ada Untuk Mengajar). Salah satu program yang digagas SSC Surabaya yang bertujuan untuk kepedulian terhadap dunia pendidikan anak-anak terutama bagi mereka anak-anak jalanan. Ya karena mereka hampir tidak memiliki waktu untuk belajar dirumah ataupun untuk mengikuti bimbingan belajar yang harganya terbilang mahal untuk kondisi perekonomian keluarga mereka.

Sejak bergabung dengan SSC Surabaya aku mulai mengenal siapa Rahma, karena 2 kali semingu tiap selasa dan Rabu jam 19.00 malam, aku turut serta mengajar di wilayah Delta (sebutan untuk Plaza Suabaya) sebagai pengajar keren, awalnya yang mengajar di delta hanya kami berlima bersama Mas Gito, Mas Andy, Mas John, dan si cantik Mbak Aurora di temani dengan pengajar lama yang keibuan Mbak Anis. Sebelum mengajar di Delta kami berlima sebenarnya sudah saling kenal karena dipertemukan di Open Rekrutmen Pengajar Keren SSC Surabaya, yang kebetulan kami berempat yaitu aku, Mas John , Mas Andy juga Mbak Aurora adalah satu kelompok. Seiring berjalannya waktu kakak-kakak pengajar yang turut perpartisipasi di Delta semakin banyak diantaranya ada Bang Jo, Mbak Reny, Mbak Okta, Mbak Wundri, Mbak Intan, Mbak Aulia, Mbak Qowy, Mbak Puspita, Mbak Lala, Mas Indra, Mas Sandy, Mas Fahmi, Mas Ghosy, dan masih banyak lagi yang aku ga kenal namanya satu persatu.

Bersama sahabat-sahabat seperjuangan itulah, aku mulai mengenal siapa sosok Rahma. Seorang gadis kecil yang gigih di usianya yang masih belia, walau kadang sedikit rewel seperti anak-anak pada umumnya. Dan kadang jika dia mulai rewel dan ga mau belajar, kami kakak – kakak pengajar yang laki-laki kadang ga sanggup menghadapi tingkahnya tapi Mbak Aurora yang mungkin sama-sama perempuan sanggup meluluhkan hati Rahma dan mau belajar. Lain Rahma lain lagi dengan adiknya Fano, bocah laki-laki yang super aktif itu paling susah untuk diam, dia mau belajar jika suasana hatinya mau belajar, walau akhir-akhir ini sudah bisa menulis angka 1-10 dengan benar. Bahkan kadang-kadang kakak pengajar yang baru bergabung sering dibuat kerepotan dengan tingkahnya yang ga bisa diam. Sebenarnya ada salah satu pengajar yang mampu menakhlukkan hati Fano, dia salah satu Pengajar Keren yang akhir-akhir ini jarang ngajar. Mungkin karena kesibukannya bekerja atau yang lain aku tak tahu. Yang pasti setiap aku ke Delta yang dicari Fano adalah kakak tersebut bukan kakak pengajar yang lain.

Kelas Delta… ya, mungkin itulah seklumit cerita tentang kelas Delta yang kini hanya mengajar 2 adik, Rahma dan Fano. Sebelumnya ada 4 anak bersaudara dari Ambengan Batu yang ikut meramaikan kegiatan belajar di Delta ini, mereka adalah Putri, Amel, Arya dan Putra dan 3 anak lainnya namun seiring dibukanya kelas baru di dekat rumah mereka, sehingga mereka ikut belajar di Ambengan Batu. Kini di Delta mulai sepi, namun kami tetap datang untuk bertemu Rahma dan Fano sambil tetap belajar sambil bermain. Terima kasih untuk kakak-kakak pengajar yang turut meramaikan Delta.

-Roy-

Pengajar Keren Delta yang masih belum merasa keren.