Waktu menunjukkan pukul 22.00 waktu Surabaya, saat aku pulang dari nonton film di bioskop plaza Surabaya kulihat seorang gadis kecil yang berusia belum genap 10 tahun, dan bocah laki-laki yang belum genap 5 tahun, sedang tidur tanpa alas di lantai plaza yang cukup dingin menurutku. Disampingnya ada gelas plastik untuk tempat uang receh bagi siapapun yang iba dan memberikan recehan padanya juga beberapa lembar Koran yang belum laku tampak tergeletak digunakan sebagai bantal. Saat pertama kali berjumpa aku sempat berikir kemana ibunya, kok tega sampai larut malam kok anaknya dibiarkan tidur di emperan mall, hingga akhirnya aku bergabung dengan komunitas yang peduli dengan nasib mereka, ya komunitas itu bernama Save Street Child Surabaya.
Komunitas SSC Surabaya inilah yang mengenalkanku pada Rahma gadis kecil yang kujumpai pertama kali di Plaza Surabaya waktu itu. Dan ternyata bocah laki-laki yang disampingnya yang cukup aktif adalah adiknya bernama Fano. Aku bergabung menjadi volunter SSC Surabaya sebagai tenaga pengajar yang dikenal dengan sebutan Pengajar Keren dari program KAU Mengajar (Kami Ada Untuk Mengajar). Salah satu program yang digagas SSC Surabaya yang bertujuan untuk kepedulian terhadap dunia pendidikan anak-anak terutama bagi mereka anak-anak jalanan. Ya karena mereka hampir tidak memiliki waktu untuk belajar dirumah ataupun untuk mengikuti bimbingan belajar yang harganya terbilang mahal untuk kondisi perekonomian keluarga mereka.
Sejak bergabung dengan SSC Surabaya aku mulai mengenal siapa Rahma, karena 2 kali semingu tiap selasa dan Rabu jam 19.00 malam, aku turut serta mengajar di wilayah Delta (sebutan untuk Plaza Suabaya) sebagai pengajar keren, awalnya yang mengajar di delta hanya kami berlima bersama Mas Gito, Mas Andy, Mas John, dan si cantik Mbak Aurora di temani dengan pengajar lama yang keibuan Mbak Anis. Sebelum mengajar di Delta kami berlima sebenarnya sudah saling kenal karena dipertemukan di Open Rekrutmen Pengajar Keren SSC Surabaya, yang kebetulan kami berempat yaitu aku, Mas John , Mas Andy juga Mbak Aurora adalah satu kelompok. Seiring berjalannya waktu kakak-kakak pengajar yang turut perpartisipasi di Delta semakin banyak diantaranya ada Bang Jo, Mbak Reny, Mbak Okta, Mbak Wundri, Mbak Intan, Mbak Aulia, Mbak Qowy, Mbak Puspita, Mbak Lala, Mas Indra, Mas Sandy, Mas Fahmi, Mas Ghosy, dan masih banyak lagi yang aku ga kenal namanya satu persatu.
Bersama sahabat-sahabat seperjuangan itulah, aku mulai mengenal siapa sosok Rahma. Seorang gadis kecil yang gigih di usianya yang masih belia, walau kadang sedikit rewel seperti anak-anak pada umumnya. Dan kadang jika dia mulai rewel dan ga mau belajar, kami kakak – kakak pengajar yang laki-laki kadang ga sanggup menghadapi tingkahnya tapi Mbak Aurora yang mungkin sama-sama perempuan sanggup meluluhkan hati Rahma dan mau belajar. Lain Rahma lain lagi dengan adiknya Fano, bocah laki-laki yang super aktif itu paling susah untuk diam, dia mau belajar jika suasana hatinya mau belajar, walau akhir-akhir ini sudah bisa menulis angka 1-10 dengan benar. Bahkan kadang-kadang kakak pengajar yang baru bergabung sering dibuat kerepotan dengan tingkahnya yang ga bisa diam. Sebenarnya ada salah satu pengajar yang mampu menakhlukkan hati Fano, dia salah satu Pengajar Keren yang akhir-akhir ini jarang ngajar. Mungkin karena kesibukannya bekerja atau yang lain aku tak tahu. Yang pasti setiap aku ke Delta yang dicari Fano adalah kakak tersebut bukan kakak pengajar yang lain.
Kelas Delta… ya, mungkin itulah seklumit cerita tentang kelas Delta yang kini hanya mengajar 2 adik, Rahma dan Fano. Sebelumnya ada 4 anak bersaudara dari Ambengan Batu yang ikut meramaikan kegiatan belajar di Delta ini, mereka adalah Putri, Amel, Arya dan Putra dan 3 anak lainnya namun seiring dibukanya kelas baru di dekat rumah mereka, sehingga mereka ikut belajar di Ambengan Batu. Kini di Delta mulai sepi, namun kami tetap datang untuk bertemu Rahma dan Fano sambil tetap belajar sambil bermain. Terima kasih untuk kakak-kakak pengajar yang turut meramaikan Delta.
-Roy-
Pengajar Keren Delta yang masih belum merasa keren.